RANDAI MINANGKABAU

Menurut Yoyok RM dan Siswandi, Randai mempunyai beberapa asal usul. Ada yang berpendapat bahwa Randai berasal dari bahasa Arab rayan-li-da’i (berasal dari kata da’i), sebutan untuk pendakwah tarikat Na’sabandiyah. Pendapat lain adalah Randai berasal dari kata handai yang berarti keakraban, keintiman, dan keramahan dalam bahasa Minangkabau.

Randai merupakan hasil perpaduan Kaba dan Silek yang dipersatukan dengan gerakan dan syair gurindam yang indah. Kaba dan Silek merupakan bahasa Minangkabau. Kaba berarti kabar atau berita yang disampaikan oleh para pengelana, kaba dapat mencakup berita mengenai ilmu, moral, dan agama. Silek berhubungan erat dengan keahlian seseorang dalam silat dan bela diri.

Karim Halim, penulis literatur, mengutarakan bahwa Randai lebih diutamakan untuk pesan moral daripada hiburan. Menurut penelitiannya, dokumentasi Randai ditemukan pertama kali pada tahun 1930an. Karim Halim menuliskan di artikelnya “Sandiwara Randai (Randai Theatre)” bahwa Randai dilakukan secara langsung di pedesaan dimana suasana sangat tenang dan diiringi musik seperti keroncong.